Mukaddimah

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Segala puji hanya bagi Allah, Zat yang menciptakan segala makhluk berpasangan. Shalawat salam atas Rasulullah, lentera umat dari kegelapan dan suri tauladan terbaik bagi seluruh umat manusia.

Pernikahan, ialah sebuah momen penting dalam siklus kehidupan manusia. Kami memandang pernikahan sebagaimana Islam memandang, yaitu sebagai ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti sunnah Sang Nabi akhir zaman, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Pernikahan, ialah sebuah ikatan suci. Dengan untaian kalimat sederhana, Ijab dan Qabul, terjadilah perubahan besar: yang haram menjadi halal, yang maksiat menjadi ibadah, kekejian menjadi kesucian, dan kebebasan menjadi tanggung jawab. Begitu besarnya tanggung jawab ini sehingga Allah menyebut pernikahan sebagai Mitsaqon Gholidho (perjanjian yang berat). Hanya 3 kali kata ini disebut dalam Al Qur’an. Pertama, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat perjanjian dengan Nabi dan Rasul Ulul ‘Azmi (QS 33 : 7). Kedua, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat bukit Tsur di atas kepala Bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah (QS 4 : 154). Dan Ketiga, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan tentang hubungan pernikahan (QS 4 : 21).

Pernikahan, ialah sebuah majelis yang dapat menghimpun sesuatu yang terserak di antara kami berdua. Pernikahan membutuhkan kesiapan dan kesadaran untuk masing-masing menerima hak dan kewajibannya, yang di mana masing-masing pihak memiliki fungsi dan tugas masing-masing serta sama-sama berperan sebagai perhiasan dunia satu sama lain.

Pernikahan, bukanlah sebuah bahtera yang hanya mengarungi luasnya samudera hidup di dunia. Namun, pernikahan juga merupakan bahtera sekaligus benteng untuk menuju kehidupan akhirat yang selamat dengan memberikan wasiat-wasiat taqwa penguat iman agar terhindar dari segala kemungkaran di zaman yang serba permisif ini.

Itulah konsep pernikahan yang kami pahami…

Kami berdua tentu menyadari bahwa menikah itu tidaklah mudah, apalagi dengan menyandang status pernikahan di usia muda yang menurut sebagian besar orang hanya dilandasi dengan hawa nafsu belaka. Akan ada masa suka dan juga duka dalam sebuah rumah tangga. Akan ada tawa dan juga tangis. Tetapi, demikianlah sunnatullah, di mana ada kemungkaran di situ ada kebaikan, di mana ada kegelapan di situ ada cahaya yang akan menerangi. Akan terdapat masalah yang menghadang di samping kesenangan yang diperoleh. Bahkan, orang yang sudah terbujur kaku pun masih memiliki permasalahan yang akan ia hadapi pada hari di mana semua amalan manusia ditampakkan dan diperlihatkan balasannya.

Dan setelah ini pun tabir akan terus terbuka. Segala kelebihan dan kekurangan akan terus menghiasi hari-hari kami. Bahwa suami yang menikahimu, tidaklah mewarisi kemuliaan Nabi Muhammad, tidaklah mewarisi ketaqwaan Nabi Ibrahim, tidak juga mewarisi kesabaran Nabi Ayyub, apalagi mewarisi ketampanan Nabi Yusuf. Namun, yang pasti diwarisi dalam diri suamimu adalah kerinduan ayah dan ibu kita (Nabi Adam dan Hawa) akan surga yang dijanjikan-Nya. Suamimu hanyalah seorang pria akhir zaman yang memiliki cita-cita membina dan membentuk keluarga dan keturunan yang shaleh, taat, dan tidak menyekutukan Allah.

Begitu juga dengan istri, bahwa istri yang kamu nikahi bukanlah Khadijah yang begitu sempurna dalam menjaga keluarga, pun bukanlah Siti Hajar yang begitu setia dalam sengsara. Istrimu ialah tulang rusuk bengkok yang butuh kesabaran dalam meluruskannya agar tidak patah. Istrimu hanyalah seorang wanita akhir zaman yang berusaha menjadi istri shalehah sebagai perhiasan dunia bagi suaminya.

Ya Allah, ijinkan hamba-Mu ini berikhtiar dalam batas-batas syari’at yang telah Engkau gariskan. Dalam hembusan sejuknya iman.

Ya Allah, indahkanlah rumah kami dengan kalimat-Mu yang suci. Suburkanlah kami dengan anak dan keturunan yang menegakkan asma-Mu. Penuhi kami dengan amal shaleh yang Engkau ridhai. Dan jadikan anak dan keturunan kami sebagai seorang mujahid dan mujahidah yang ahsan dan teguh dalam membela agama-Mu.

Ya Allah, hapuskan semua bagian dari diri kami yang salah. Dan tunjukkan pada kami serta gantilah dengan sesuatu yang jauh lebih indah.

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu terlihat jelas kebenarannya, dan berilah kami kekuatan untuk mengikuti kebenaran tersebut.

Ya Allah, tunjukkan pula kepada kami bahwa yang salah itu terlihat jelas kesalahannya, serta berilah kami kekuatan dan keberanian untuk menjauhinya.

Ya Allah, damaikanlah pertengkaran di antara kami, pertautkan hati kami, dan tunjukkan kepada kami jalan-jalan keselamatan. Selamatkan kami dari kegelapan kepada cahaya. Jauhkan kami dari keburukan yang tampak dan tersembunyi.

Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah terhimpun dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam taat kepada-Mu, bersatu dalam da’wah kepada-Mu, berpadu dalam membela syariat-Mu. Ya Allah, kokohkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal kepada-Mu. Hidupkanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu. Matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. Ya Allah, kabulkanlah. Ya Allah, sampaikanlah salam sejahtera kepada junjungan kami, Muhammad SAW, kepada para keluarganya, dan kepada para sahabatnya, limpahkanlah keselamatan untuk mereka.

Amiin…

Menikahlah, bukan karena engkau merasa siap, karena kedewasaan dan kematangan akan datang dan berkembang seiring dengan waktu dan pengalaman ketika membina rumah tangga.

Menikahlah, bukan pula karena engkau telah memiliki kehidupan yang mapan serta harta yang melimpah, sebab tidak ada jaminan bahwa setelah menikah harta tersebut senantiasa mengiringi.

Tapi…

Menikahlah, karena engkau yakin kepada Allah, Zat Yang Maha Pemberi Rizki, yang akan menjaga, melindungi, dan memberi engkau kecukupan selama hati ini terhimpun dalam cinta pada-Nya.